Rabu, 25 Mei 2011

Lima Jam Menengok Sejarah Filipina di Intramuros

Oleh Olenka Priyadarsani

Intramuros lazim diterjemahkan sebagai benteng, walau secara harfiah “berada di dalam tembok-tembok”. Kota-dalam-kota ini terletak di jantung Manila, ibu kota Filipina, tepatnya di bagian selatan Sungai Pasig. Pada masa penjajahan Spanyol, Intramuros adalah kota Manila itu sendiri. Saksi sejarah seluas 670 m persegi tersebut kini menjadi atraksi wisata utama kota Manila.
   
Matahari Manila bersinar terik saat saya mengunjungi Intramuros. Walau ada beberapa pilihan transportasi, saya memutuskan berjalan kaki dari hotel di Malate agar dapat menikmati suasana kota dengan lebih leluasa. Dengan peta dan buku panduan di tangan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. 

Sebelum beranjak lebih jauh, mari kita tengok sejarah Filipina dan Intramuros itu sendiri.


Jeepney di Intramuros, Manila. Kredit foto:ThinkStock

Intramuros dibangun oleh Spanyol pada abad ke-16 atas perintah Raja Phillip II dari Spanyol dengan tujuan melindungi kekuasaan Spanyol di Filipina (terutama dari Belanda dan Inggris yang juga sedang saling berebut wilayah jajahan di Asia Tenggara).

Selain itu, Intramuros juga bertujuan melindungi Manila dari bajak laut Cina. Saat itu terdapat beberapa gereja, sekolah keagamaan, serta kantor gubernur, sebelum akhirnya dipindahkan ke Istana Malacañang dan benteng Santiago.

Pada masa Perang Dunia II, ketika Filipina dikuasai oleh Amerika Serikat, tentara AS di bawah pimpinan Jenderal MacArthur menjadikan Intramuros sebagai benteng pertahanan terakhir dari gempuran tentara Jepang.  Saat itu kondisi benteng porak-poranda dan hanya Gereja San Agustin yang masih tegak berdiri.

Pada tahun 1980-an, di bawah pemerintahan Imelda Marcos, Intramuros dipugar besar-besaran.

Jalan di Intramuros bersih dengan bangunan peninggalan Spanyol berjajar di sisi kanan dan kiri jalan.  Benteng Santiago merupakan salah satu titik wisata yang paling ramai. Sebelum kedatangan Spanyol, tempat tersebut merupakan benteng kayu Rajah Sulayman.

Di Benteng Santiago terdapat Rizal Shrine tempat dulu José Rizal, pahlawan paling dikagumi di Filipina, dipenjarakan. Di benteng inilah pusat militer penjajah Spanyol dipusatkan.

Dari Benteng Santiago saya memanggil becak atau biasa disebut padyak untuk mengelilingi Intramuros selama satu jam dengan biaya sekitar Rp 30 ribu rupiah. Jayen, pengendara becak yang saya tumpangi, dapat menjelaskan sebagian besar sejarah Filipina walau banyak informasi telah saya dapatkan sebelumnya dari buku panduan wisata.


Manila Metropolitan Cathedral-Basilica atau lebih dikenal dengan Katedral Manila. Kredit foto: ThinkStock

Tidak jauh dari Benteng Santiago, berdiri gagah Manila Metropolitan Cathedral-Basilica atau biasa disebut Katedral Manila. Dibangun pada abad ke-16, katedral ini sempat rusak beberapa kali akibat perang dan gempa bumi. Jenazah mantan Presiden Corazon Aquino pun disemayamkan di gereja ini sebelum dikebumikan.

Kami melanjutkan perjalanan memutari Intramuros. Terlihat banyak turis-turis asing menyewa kalesa  atau kereta kuda untuk mengelilingi tempat wisata ini.

Perhentian berikutnya adalah Gereja San Agustin, gereja tertua di Filipina yang pada tahun 1993 dijadikan warisan budaya dunia oleh UNESCO. Selama pendudukan Jepang pada Perang Dunia II, gereja ini diubah menjadi kamp konsentrasi untuk para tahanan.

Ada beberapa museum yang dapat Anda kunjungi di Intramuros, antara lain Bahay Tsinoy dengan peninggalan sejarah dari komunitas Cina-Filipina. Selain itu ada Casa Manila, replika rumah bangsawan pada zaman dahulu.  Banyak juga wisatawan yang berfoto di depan Palacio del Gobernador atau istana gubernur.

Bila Anda lebih menyukai sejarah perang, banyak sekali objek foto yang dapat diabadikan misalnya meriam yang dulu jadi senjata untuk mengusir musuh yang datang. Anda juga harus berkeliling ke masing-masing gerbang atau yang lazim disebut puerta.

Jangan khawatir bila perut sudah melilit minta makan: Ada beberapa restoran waralaba seperti Chowking dan Jolibee serta Starbucks di dalam lingkungan Intramuros.

Lima jam sudah saya habiskan untuk mengelilingi peninggalan sejarah Filipina yang tak ternilai ini. Kini saatnya meminta Jayen untuk mengantar  saya ke Pecinan, sekitar 15 menit dengan becak dari gerbang Intramuros.


Artikel Terkait:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentator Blog Ini