Selasa, 01 Februari 2011

Perayaan Imlek Versus Valentine's Day Edisi 23



Valentine vs Imlek? Seperti yang diketahui, kebanyakanb orang, Valentine’s day adalah sebuah perayaan pernyataan cinta bagi mereka yang sedang kasmaran. Sedangkan Imlek itu sendiri merupakan ucapacara pergantian tahun bagi masyarakat Tionghoa. Sebelum mengambil keputusan untuk memilih merayakan hari Valentine atau Imlek dulu, ada baiknya bila mengetahui lebih lanjut asal-usul keduanya.

Ada begitu banyak versi yang menceritakan kisah bermulanya hari Valentine yang salah satu versinya menceritakan tentang seorang pastor bernama Valentine, yang hidup di Roma pada abad ke-III. Ia hidup di kerajaan di bawah pimpinan Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.

Namun sayang keinginan ini tidak didukung oleh pria yang enggan terlibat dalam peperangan, karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya hanya untuk berperang. Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.

Claudius berfikir bahwa jika seorang pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung dengan militer dan berjuang dengan gigih untuk negara. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal. Karenanya St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.

St. Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini akhirnya diketahui oleh kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.

Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya. Bukannya dihina oleh
orang-orang, St. Valentine malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya itu. Mereka melemparkan bunga dan pesan yang berisi dukungan lewat jendela penjara di mana ia ditahan.

Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta kasih itu adalah putri penjaga penjara sendiri. Sang ayah mengijinkan putrinya untuk mengunjungi St. Valentine. Tak jarang mereka berbicara lama sekali. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa
St. Valentine telah melakukan hal yang benar.

Pada hari saat ia dipenggal kepalanya, yakni tanggal 14 Februari tidak diketahui tahun berapa, St. Valentine menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri sipir penjara tadi, ia menuliskan Dengan Cinta dari Valentinemu.

Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang
sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.


Sementara di belahan dunia lain ada sebuah perayaan tahun baru Imlek yang dimulai di hari pertama bulan pertama di penaggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal ke lima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru Imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti “malam pergantian tahun”.

Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Cina sangat beragam. Namun, secara keseluruhan tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api selalu ada disetiap perayaan pergantian tahun. Meskipun penanggalan Cina secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, penanggalan Tionghoa di luar Tiongkok seringkali dinomori dari pemerintahan Huangdi.

Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa yang juga memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di negara tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang terkait dengannya merembak luas. Ini termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873). Di Daratan Tiongkok, Hong Kong, Macau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi Han Cina yang signifikan.

Masing-masing perayaan memiliki kisahnya tersendiri. Tinggal Andalah yang berhak menafsirkannya sesuai dengan kebutuhan Anda. Keduanya hanya merupakan perayaan yang sudah menjadi tradisi. GONG XI FAT CHAI




Artikel Terkait:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentator Blog Ini