Selasa, 08 Februari 2011

NOSTALGIA MENONTON DI BIOSKOP PINGGIRAN MAKASSAR


Sejak menjadi kontributor konten di Yahoo OMG Indonesia khususnya mengenai resensi film, kenangan saya kerap melayang pada kegemaran menonton film di masa lalu. Sekitar 20 tahun silam, di kota Makassar. Pengalaman yang tak terlupakan dan senantiasa menjadi memori indah yang membuat saya tersenyum sendiri bahkan tertawa kecil saat mengenangnya.
Setiap kali menerima honorarium penulisan dari artikel yang saya tulis di Media Kampus atau Suratkabar lokal di Makassar saya senantiasa menyisihkan uang yang tak seberapa besar jumlahnya itu untuk “memanjakan diri” menonton film di Bioskop-Bioskop pinggiran yang ketika itu ramai bertebaran di kota Makassar.  Belum ada VCD /DVD Player yang begitu marak saat ini, justru Laser Disc Player dengan keping cakram besar atau video player VHS/Betamax yang menjadi sarana hiburan visual non bioskop dan hanya dimiliki oleh segelintir orang karena harganya masih cukup mahal. Nikmat sekali merasakan hasil jerih payah sendiri sembari menonton film-film favorit.
Perkenalan awal saya dengan bioskop dimulai ketika saya dan keluarga masih berada di Bone-Bone, sebuah desa di Kab.Luwu yang berjarak sekitar 500 km dari Makassar tahun 1980-an.  Bioskop MURNI  adalah bioskop favorit masyarakat disana yang memang haus akan hiburan. Biasanya, hampir setiap malam minggu pada awal bulan (jika cuaca cerah), kami sekeluarga menonton ramai-ramai kesana.  Saya masih ingat betul mobil pick-up promosi bioskop MURNI berputar-putar di desa kecil itu memberikan informasi film yang sedang diputar melalui speaker TOA secara berisik dan provokatif disertai lagu-lagu dangdut memekakkan telinga. “Saksikanlah! Banjirilah! Film Hebat Sepanjang Masa : SATRIA BERGITAR yang dibintangi oleh Haji Rhoma Irama, Hanya di Bioskop MURNI.  Jangan sampai ketinggalan dan anda akan menyesal seumur hidup!”. Demikian kira-kira suara sang announcer yang sudah parau ketika mengumumkan film terbaru di bioskop mereka. Biasanya saya bersama teman-teman kecil saya, berdiri di pinggir pagar menyaksikan mobil heboh itu lewat didepan rumah. Kami ikut berteriak-teriak senang.
Film-film Rhoma Irama atau Film India memang paling sering diputar di Bioskop Murni. Ayah dan ibu saya sangat menggemari film India. Bila kami sekeluarga menonton, adegan favorit saya adalah adegan nyanyi dan menari yang mewarnai hampir separuh film. Dengan harga tiket yang terjangkau kami bisa mendapatkan hiburan memadai di bioskop yang berjarak 200 meter dari rumah kami itu. Cemilan selama menonton adalah kacang rebus atau kacang goreng dan untuk minumnya, ibu sudah menyediakan bekal dari rumah. Saat menonton kami selalu menggunakan pakaian terbaik kami, layaknya sedang pergi kondangan. Saya sangat menikmati saat-saat kebersamaan keluarga saat kami berangkat dan pulang dari bioskop yang dindingnya hanya terbuat dari papan kayu itu sambil berjalan kaki. Baik saat pulang maupun pergi kami selalu beriringan bersama rombongan para penonton Bioskop Murni. Ayah dan ibu masing-masing menggendong kedua adik perempuan saya yang sudah lelap tertidur, sementara saya menggandeng adik saya Budi yang terkantuk-kantuk sepanjang perjalanan kembali ke rumah.
Ketika mahasiswa, hobi menonton tersebut saya teruskan. Sekitar tahun 1990-an, bioskop-bioskop di Makassar sudah cukup marak. Ketika itu bioskop kategori kelas atas (kursi empuk dan nyaman, AC serta suara dolby stereo) seperti Studio 21 (kini sudah jadi warung cepat saji KFC) dan Makassar Theater bukan merupakan pilihan utama saya. Bioskop-bioskop tadi akan saya pilih ketika menerima honor penulisan yang cukup besar dari media nasional.  Tiket masuk sebesar Rp 5000 cukup besar buat saya untuk menonton di bioskop elite itu.
Pilihan menonton di bioskop kategori sedang dan bawah cukup banyak. Untuk kategori sedang ada bioskop ARINI, ISTANA, BENTENG, ARTIS, PARAMOUNT, DEWI harga karcisnya berada di kisaran Rp 2,500-Rp 3,500 sementara untuk kategori bawah ada bioskop APOLLO dan JAYA dengan harga karcis Rp 1,000-Rp 1,500.  Bila ada film favorit saya sedang diputar di bioskop “kelas atas” dan kebetulan tidak memiliki uang untuk menonton, saya akan bersabar menunggu hingga film itu “turun” ke bioskop kategori bawahnya sekitar 2 minggu atau sebulan kemudian.
Saya sangat menggemari film-film Hollywood dan kungfu. Aktor-aktor laga Hollywood seperti Silvester Stallone, Arnold Schwarzenegger atau Bruce Willis dan para Pendekar cina seperti Jet Li atau Jackie Chan senantiasa menjadi bintang-bintang favorit utama saya.  Karena rumah saya cukup jauh dari Makassar (sekitar 40 km), saya memilih menonton pada jam pertunjukan siang seusai kuliah.
Menonton di bioskop kelas menengah selalu menjadi prioritas saya. Paling tidak, meski suaranya tidak menggelegar dan AC-nya tidak terlalu dingin, saya masih bisa menikmati sajian filmnya. Yang penting pas di kantong, nyaman dimata dan tentu hati jadi ikut terhibur, jadi tak masalah!.
Suatu ketika seorang kawan mengajak saya untuk menjajal pengalaman baru : Menonton di Bioskop kelas bawah. Semula saya menolak mentah-mentah. Bukan apa-apa, bagaimana mungkin saya bisa menikmati film di bioskop yang panas, pengap dengan tempat duduk berupa bangku panjang ditemani kecoak, nyamuk dan kutu busuk?. Belum lagi penontonnya lebih banyak tukang becak atau sopir pete-pete (angkot). Kawan saya tidak menyerah. Ia menyatakan kita akan menikmati pengalaman baru yang sangat berbeda ketika nonton di bioskop-bioskop paling mahal sekalipun di Makassar. Syaratnya : Pakai Topi dan kacamata hitam, untuk melindungi reputasi. Saya tertawa kencang.
Tapi bolehlah, ini sebuah ajakan yang luar biasa menantang dan menguji adrenalin. Saya akhirnya menerima ajakan itu tentu dengan memenuhi segala syarat tadi.
“Eitss..jangan lupa, bawa minyak tawon ya?” kata kawan saya tiba-tiba mengingatkan.
“Minyak tawon? Untuk apa?” saya balas bertanya. Imajinasi saya mendadak sudah terbawa kemana-mana misalnya apakah sambil nonton akan dapat fasilitas pijat juga?. Kenapa harus membawa minyak urut legendaris Makassar itu?
Kawan saya tertawa geli.
“Disana banyak nyamuk. Jadi olesi dulu lenganmu dengan minyak tawon supaya tidak digigit nyamuk,” kata kawan saya menjelaskan. Rupanya minyak tawon berfungsi sama dengan “Autan” (lotion anti nyamuk) saat ini.
Dan begitulah.
Dihari yang sudah ditentukan saya bersiap-siap menikmati pengalaman baru itu. Turun dari Pete-Pete, kawan saya menyuruh untuk membenamkan topi saya dalam-dalam menutupi wajah. Sampailah kami didepan bioskop JAYA di Jalan Gunung Bulusaraung, pertunjukan film dimulai pukul 14.30 dan tinggal 30 menit lagi. Jantung saya berdebar-debar. Setelah menengok kiri kanan, kami berdua menyeberang dengan setengah berlari. Saya ikut-ikutan dibelakang teman saya yang sesekali menempelkan telunjuknya di bibir meminta saya untuk diam, jangan banyak bertanya.
Setelah membayar karcis sebesar Rp 1000/orang, kami memasuki bioskop.
“Pokoknya jangan pusingkan judul film-nya apa, yang penting nonton saja dan nikmati, juga jangan lupa: Jangan lepas topi selama menonton, kalau kacamata boleh saja dilepas,” kata kawan saya dengan gaya ala bos besar. Saya hanya mengangguk-angguk mengerti (tapi sebenarnya bingung)
Benar saja, memasuki area bioskop, suasana terasa begitu pengap. Meski langit-langitnya cukup tinggi, tetap saja suasana bau apek begitu terasa. Kursi penonton berupa bangku-bangku rotan berwarna kusam sementara sebagai “pendingin ruangan” beberapa kipas angin dengan suara berderit-derit dipasang di beberapa dinding atas bioskop. Asap rokok mulai terlihat mengepul-ngepul dari beberapa penonton. Semakin membuat suasana jadi tidak nyaman.  Jantung saya kian berdegup kencang ketika menyadari banyak penonton di bioskop itu juga pakai topi seperti saya. Demi reputasi, saya menggumam pelan. Tetap bingung.
“Sstt.. pake minyak tawon, film mau diputar sebentar lagi,” kata kawan saya pelan, saat kami sudah memperoleh nomor bangku kami. Saat mengoleskan minyak tawon di lengan, saya baru menyadari, ternyata banyak penonton lain melakukan hal serupa. Bau minyak tawon mendadak meruap di udara. Alhasil, saya tak dapat menahan tawa. Benar-benar sebuah prosesi menonton yang unik!.
Tiba-tiba punggung saya dicolek seseorang.
“Eh, kamu nonton disini juga ya?”, terdengar suara yang cukup saya kenal dari arah kebelakang.
Saya menoleh. Dan dibelakang saya, dibawah topinya, saya mengenali wajahnya : dia adalah rekan sesama aktifis kampus Unhas yang terkenal keras dan militan.
“Hehehe…iya nih. Ketahuan yaa..sering nonton disini,” kata saya menggoda.
Dia terkekeh. Dan buru-buru menempelkan telunjuknya di bibir. “Rahasia ya, tahu sama tahu, kita saling menjaga reputasi,” bisiknya pelan. Kami berdua tertawa renyah.
Film dimulai. Mengisahkan petualangan seorang koboi yang akan membasmi penguasa kota lalim yang menindas seluruh warga kota. Seru juga terutama adegan tembak-tembakan. Saya mulai menikmatinya.
Tiba-tiba layar gelap dan adegan film berganti. Bukan film koboi lagi tapi film semi porno yang menampilkan adegan dua insan berlainan jenis bermain cinta. Mesra sekali dan nyaris tanpa sehelai benangpun ditubuhnya. Film ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan film sebelumnya. Saya tersentak kaget. Dan spontan menutup kedua mata saya sembari berulang kali mengucap Astaghfirullah, Mohon Ampun pada Yang Maha Kuasa. Saya seperti sudah melakukan sebuah dosa sangat besar.  Kawan saya disamping menoleh dan tersenyum penuh kemenangan. “Ini dia bagian pentingnya!”, katanya disela-sela tawanya.
Saya membenamkan topi dalam-dalam dan menutup kuping. Kacamatapun segera saya pakai. Dalam hati saya mengutuk habis-habisan kawan saya yang sudah menjerumuskan saya ke lembah nista, menonton film seperti ini. Tanpa menunggu waktu lama, saya berdiri dan keluar dari bioskop dengan bersungut-sungut. Kawan saya tetap di bioskop menikmati sisa film, membiarkan saya seorang diri pergi. Betapa dongkol hati saya ketika itu. Saya berjanji dalam hati itu adalah pengalaman saya menonton pertama kali dan terakhir di bioskop JAYA. Belakangan saya tahu, adalah sebuah hal yang biasa, film-film semi porno disisipkan di bioskop tersebut untuk menambah “daya jual”-nya. Biasanya sekitar 5 menit adegan “yang tak ada hubungan”-nya dengan film yang diputar itu disajikan.
Ketika pulang ke Makassar beberapa kali, saya sempat menapak tilas bekas-bekas bioskop “jajahan” saya 20 tahun lalu itu. Semuanya sudah tidak ada lagi. Bioskop BENTENG di Jl.Penghibur berubah fungsi menjadi Colors Club Cafe, Bioskop ARINI di Jl.Rusa sudah menjelma menjadi Showroom Meubel, Bioskop ARTIS di Jl.Gunung Lompobattang sudah menjadi pusat pertokoan, Bioskop ISTANA di jalan Sultan Hasanuddin sudah menjadi Ruko. Nasib bioskop “minyak tawon” JAYA juga sama, ia  sudah menjelma menjadi Ruko.
Semakin meluasnya bioskop-bioskop berteknologi tinggi yang mampu memberikan kenyamanan mewah dan eksklusif pada penontonnya, merebaknya peredaran VCD dan DVD Bajakan serta semakin berkembangnya teknologi 3D untuk piranti visual di rumah membuat bioskop-bioskop pinggiran kian tergerus dan akhirnya mati. Kendati demikian, kenangan dan nostalgia yang pernah saya alami menjadi memori indah yang senantiasa saya simpan dengan baik dalam hati.


Artikel Terkait:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentator Blog Ini